MEMUNGUT SAMPAH SEPANJANG SUNGAI KARANG MUMUS, DEMI EKOSISTEM SUNGAI
KembaliMisman
Penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2023
Perintis Lingkungan
Misman, pria kelahiran Samarinda 4 April 1959, pernah berprofesi sebagai wartawan. Dia prihatin atas kondisi Sungai Karang Mumus yang penuh sampah, rela meninggalkan profesinya sebagai wartawan supaya lebih fokus melakukan pelestarian ekosistem Sungai Karang Mumus.
Kepedulian Misman mencetuskan banyak ide, menyumbangkan tenaga dan materi untuk membersihkan Sungai Karang Mumus, dari penuh sampah (tidak bisa dilalui perahu) sampai bersih dan menjadi lokasi wisata. Misman membentuk Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) dan Sekolah Sungai Karang Mumus (SeSuKaMu). GMSS-SKM dibentuk untuk menghilangkan budaya buruk masyarakat yang sering membuang sampah ke sungai.
Pada awalnya, Misman memungut sampah seorang diri dan menggunakan dana pribadi untuk GMSS-SKM. Karena komitmennya yang luar biasa, kini Misman mendapatkan partisipasi dan bantuan dari masyarakat, pemerintah daerah dan dunia usaha.
SeSuKaMu dibentuk Misman untuk mengedukasi masyarakat dari tingkat pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat umum. Misman juga konsisten membentuk riparian ekosistem sungai dengan menanam tumbuhan endemik, tumbuhan akuatik, agroforestry, dan menjaga populasi hewan agar kebutuhan manusia dan alam saling terpenuhi. Misman pun rela membeli tanah seluas 975 m2 di sekitar sungai untuk ditanami pohon endemik.
Kualitas dan estetika sungai kini menjadi lebih baik. Dampak lainnya yang sangat terasa ketika banjir, air menjadi lebih cepat surut di sekitar wilayah Sungai Karang Mumus dan Kota Samarinda.
Adanya perubahan perilaku dan penghasilan masyarakat yang semula hanya sebagai nelayan, kini ada jasa penyewaan perahu untuk wisatawan, pembuatan bengkel perahu, dan membuka warung tenda di sekitar lokasi Pangkalan Pungut. Selain itu lokasi Pangkalan Pungut berfungsi sebagai tempat edukasi anak-anak, mengerjakan tugas sekolah, musyawarah masyarakat, pengajian warga, Posyandu lansia, remaja dan balita.
GMSS-SKM dan kegiatan Pangkalan Pungut telah menginspirasi warga untuk membentuk Komunitas Peduli Sungai (KPS), sampai sekarang sudah terbentuk 13 KPS, yaitu: Deluga, Benanga, Kelestarian Alam, Kelompok Tani Muang Ilir, Belimau, Forum Pemuda, Peduli Lingkungan, GPS Talang Sari, Odading, Mawar, Bambang Hijau, Kehewanan, Teras Nusa Bakti dan Fik R Nusa Bakti. Warga juga membentuk komunitas untuk menjaga dan merawat drainase kota “GEMMPAR” (Gerakan Menjaga dan Merawat Parit).
Misman terus berinovasi melakukan pemungutan sampah dipantai dan menginisiasi pembentukan Gerakan Memungut Sehelai Sampah-Laut (GMSS-L) dan telah membentuk kepengurusan dan keanggotaan masyarakat setempat.
Harapannya Kalpataru tidak hanya di tingkat nasional, tetapi mulai dari grassroot yaitu RT dan RW sehingga melahirkan pecinta lingkungan handal, bahkan tidak hanya tingkat nasional tetapi juga internasional.